Apa perbedaan antara konsumsi induksi dan konsumsi otonom?

Apa perbedaan antara konsumsi yang diinduksi dan konsumsi otonom?
a:

Langkah pertama untuk menentukan perbedaan antara konsumsi otonom dan induksi adalah melihat arti masing-masing istilah ini. Perbedaan utama antara konsumsi otonom dan konsumsi induksi terletak pada faktor pendapatan.

Konsumsi Otonomi

Konsumsi otonom didefinisikan sebagai pengeluaran yang terjadi ketika tingkat pendapatan disposable berada pada posisi nol. Konsumsi ini biasanya digunakan untuk mendanai kebutuhan konsumen, namun menyebabkan konsumen meminjam uang atau menarik diri dari rekening tabungan.

Konsumsi otonom paling sering terjadi saat orang berada dalam kesulitan dan tidak memiliki penghasilan, namun tetap memiliki biaya. Bahkan jika seseorang bangkrut, dia masih memiliki kebutuhan dasar seperti makanan, uang sewa, utilitas, biaya kesehatan dan pembayaran mobil. Bila konsumen berada dalam situasi ini, dia terpaksa menghabiskan lebih banyak uang daripada menghasilkan, yang berakibat pada dissaving. Meskipun pendapatan mereka belum tentu nol, konsumen ini terpaksa menghabiskan seluruh pendapatan mereka dan juga uang yang tidak mereka miliki hanya untuk kebutuhan. Akibatnya, mereka tidak memiliki penghasilan sekali pakai.

Konsumsi diinduksi, sebaliknya, berbeda dengan jumlah konsumsi yang bervariasi berdasarkan pendapatan. Sebagai pendapatan disposable naik, begitu juga tingkat konsumsi yang diinduksi. Proses ini berlaku untuk semua barang dan jasa normal. Untuk konsumsi yang diinduksi, pendapatan disposable pada nol saat konsumsi induksi nol. Seiring dengan meningkatnya pendapatan disposable, kenaikan tersebut memicu kenaikan konsumsi yang serupa. Konsumsi yang diindikasikan menunjukkan bagaimana orang mulai menikmati gaya hidup lebih mewah dan menghabiskan lebih banyak uang saat kekayaan mereka tumbuh.